Posts

Bibit Baru Para Maba

[02-08] Sebelum engkau meyakini bahwa usahamu akan sampai Sebelum engkau mengepalkan tanganmu dan meletakkannya di depan wajah seraya berkata : "lawan,lawan,lawan" Sebelum engkau menerjemahkan metafora beriman, berilmu, dan beramal Sebelum engkau menasbihkan diri pada dzikir, pikir, amal soleh. Sebelum salah satu dari padanya datang kepadamu Isi dahulu cangkirmu, dengan segelas darah yang kau sayat dari tubuh HIMATIKA.

Menanam Pelacur

[01-08] Hamparan bibit tanaman yang kusemai perlahan Yang kupisahkan ia dari rumputnya Yang kusiram ia dengan percikan harapan Semoga tumbuh menjadi batang yang kokoh, Bunganya harum, dan buahnya menjalar lebar di atas tikar Dinikmati orang banyak Terjual dengan harga tinggi Ia makmur sebagai tanaman Aku kenyang sebagai hewan Akan kupersiapkan ia sampai matang Namun jauh sebelum itu, Bolehkah aku menggaulinya lebih dulu ? Agar saat dewasa nanti, Mereka sudah paham bagaimana caranya menjual dirinya sendiri

Melayat Idealisme

[31-07] Baru dua jam aku kehilanganmu Serat nadiku bergetar dengan amat pilu Membayangkan engkau pamit tanpa permisi Pergi tanpa ucapan selamat jalan Pulang ke rumah meninggalkan tempat persinggahan Belum sempat kuteriakan selamat tinggal Senyummu mengetuk pintuku pelan-pelan "Sepertinya ada yang ketinggalan, kekasih" "Apakah itu gerangan ?", sahutku "Engkau, dan kehangatanmu yang sudah pudar" Ah sial, aku kembali berlakon Kubawa pacul dan kugali teras rumahku dalam-dalam Aku berdoa dan kututup kembali lubangnya "Apa yang kau kubur, kekasih." "Idealismeku. Yang nantinya tumbuh subur berbunga kasih dan berbuah cinta. Kepada dan hanya untukmu"

Membaur Selaras Semesta

[30-07] Demi aksara yang kupahat dengan paksa Demi suar yang kulantangkan keras-keras Engkau adalah saksi yang menghilang tanpa sebab Menyisakan berkas pertanyaan yang terlantar Tanpa ada jawab yang bisa ditatar Aku adalah linguistik yang kau terka Maka bacalah aku dengan seksama Bukankah sudah kudiktekan paragrafnya Bahwa tiada ujung sampai kita berpisah

Juara Tanpa Praduga

[29-07] Fajar menyelinap di teras timur angkasa Bertanda hari ini bukanlah hari kiamat Terdengar kabar engkau akan bersamanya Serentak nadi dalam organku tersumbat Darah berhenti mengalir Paru terdiam terpaku Jemari bergetar menggigil Aku tersungkur dalam palung kehilangan Sial, hari ini adalah hari kiamat Berbahagialah, dengan ia yang saat ini menantimu Aku kalah Kalian menang Kalian ... engkau, dia, dan masa depanmu bersamanya

Penantian Perayaan

[28-07] Persiapkan segalanya dalam senyap Dengan wujud yang terbisik dalam sujud Tanpa raung yang nampak menganga Tanpa prasasti yang kau sebar sana sini Bukankah yang kita rayakan itu adalah akhirnya Menyisihkan proses pahit getir masamnya Orang-orang sibuk menyelamati Sementara siapa yang dahulu menyemangati Dirimu sendiri, bukan ? Maka rayakanlah Rayakan, sendirian saja Dan jika dirasa terlalu sepi Ajaklah semesta beserta nebulanya Teman-temanmu ? Biarkan mereka berperan dengan topengnya Dengan naskah palsu yang mereka buat sendiri

Prasasti Prasangka

[27-07] Dugaan hidup pada keraguan Pada dengki yang berselimut isi hati Pada prasangka yang berbaur firasat Pada kebencian yang mampu disembunyikan Selami yang engkau cintai Dalami yang engkau benci Jangan dicintai sebelum diselami Jangan dibenci sebelum didalami Paham dan mengertilah Sebelum ia membatu dan tak terhapus di hati