Posts

Showing posts from July, 2022

Melayat Idealisme

[31-07] Baru dua jam aku kehilanganmu Serat nadiku bergetar dengan amat pilu Membayangkan engkau pamit tanpa permisi Pergi tanpa ucapan selamat jalan Pulang ke rumah meninggalkan tempat persinggahan Belum sempat kuteriakan selamat tinggal Senyummu mengetuk pintuku pelan-pelan "Sepertinya ada yang ketinggalan, kekasih" "Apakah itu gerangan ?", sahutku "Engkau, dan kehangatanmu yang sudah pudar" Ah sial, aku kembali berlakon Kubawa pacul dan kugali teras rumahku dalam-dalam Aku berdoa dan kututup kembali lubangnya "Apa yang kau kubur, kekasih." "Idealismeku. Yang nantinya tumbuh subur berbunga kasih dan berbuah cinta. Kepada dan hanya untukmu"

Membaur Selaras Semesta

[30-07] Demi aksara yang kupahat dengan paksa Demi suar yang kulantangkan keras-keras Engkau adalah saksi yang menghilang tanpa sebab Menyisakan berkas pertanyaan yang terlantar Tanpa ada jawab yang bisa ditatar Aku adalah linguistik yang kau terka Maka bacalah aku dengan seksama Bukankah sudah kudiktekan paragrafnya Bahwa tiada ujung sampai kita berpisah

Juara Tanpa Praduga

[29-07] Fajar menyelinap di teras timur angkasa Bertanda hari ini bukanlah hari kiamat Terdengar kabar engkau akan bersamanya Serentak nadi dalam organku tersumbat Darah berhenti mengalir Paru terdiam terpaku Jemari bergetar menggigil Aku tersungkur dalam palung kehilangan Sial, hari ini adalah hari kiamat Berbahagialah, dengan ia yang saat ini menantimu Aku kalah Kalian menang Kalian ... engkau, dia, dan masa depanmu bersamanya

Penantian Perayaan

[28-07] Persiapkan segalanya dalam senyap Dengan wujud yang terbisik dalam sujud Tanpa raung yang nampak menganga Tanpa prasasti yang kau sebar sana sini Bukankah yang kita rayakan itu adalah akhirnya Menyisihkan proses pahit getir masamnya Orang-orang sibuk menyelamati Sementara siapa yang dahulu menyemangati Dirimu sendiri, bukan ? Maka rayakanlah Rayakan, sendirian saja Dan jika dirasa terlalu sepi Ajaklah semesta beserta nebulanya Teman-temanmu ? Biarkan mereka berperan dengan topengnya Dengan naskah palsu yang mereka buat sendiri

Prasasti Prasangka

[27-07] Dugaan hidup pada keraguan Pada dengki yang berselimut isi hati Pada prasangka yang berbaur firasat Pada kebencian yang mampu disembunyikan Selami yang engkau cintai Dalami yang engkau benci Jangan dicintai sebelum diselami Jangan dibenci sebelum didalami Paham dan mengertilah Sebelum ia membatu dan tak terhapus di hati

Octopus Iskandarius

[26-07] Tajam duri kaktus yang menusuk jemari Seumpama cakap manusia pada yang lain Kelopak bunga merekah di atasnya Melebur seperti pintu maaf yang selalu terbuka Hidup dalam ketandusan Tumbuh menyerupai kelopak mawar Yang tajam bukanlah durinya Melainkan tangan manusia yang menghampirinya Bunga-bunga itu Mekar dalam keraguan Penantian itu Berbunga pada akhirnya

Maribaya dan Kabut Pagi Wangunharja

[25-07] Semu cahaya matahari yang terbias kabut pagi Menutup paradigma dari selir pandang manusia Akar tanaman gunung yang tertancap dengan kuat Mengikat dan merambat pada batang yang telah kita pegang dengan erat Berangkat atas nama pengabdian yang klise Beranjak dari kelengkapan tri dharma mahasiswa Bermetafora menjadi orang yang seolah peduli Padahal itu hanyalah wujud abstraksi dari ketidakmampuan diri Pengabdian yang dibuat-buat Dibuat-buat untuk mengabdi Pagi ini kita bersujud lumpuh seolah ikut tak berdaya dengan apa yang orang lain rasakan Siang nanti kita beri transmisi ilmu dan cakapnya pengetahuan yang kita miliki Esok, lusa, dan seterusnya Kita lupakan. Lupakan seolah itu tak pernah terjadi Pengabdian yang dibuat-buat Dibuat-buat untuk pengabdian Pulang saja Engkau tidak akan mampu mencintai masyarakat Sementara mencintai diri sendiri saja tidak sanggup Pulang saja Abdikan dirimu untukmu terlebih dahulu Pulang saja Peluk dirimu sendiri